Miris Penjagal Pohon Bantaran Citarum, Alasan Mengganggu Kerja Exavator

oleh

Kab Bandung, Matainvestigasi.com – Program Citarum Harum yang sudah masuk tahap 3 dalam Percepatan Penanganan Kerusakan Sungai (DAS) sebagai program prioritas pusat dengan Perpres No 15 Tahun 2018, seharusnya lebih mantap lagi dalam penangannya. Apa lagi saat ini di sibukan dengan penanaman pohon dan penghijauan, baik pada lahan kosong dan bantaran sungai milik Negara, rabu (30/09).

Miris melihat pohon di pinggir bantaran sungai citarum bojongsari manggahang baleendah belakang pabrik anggana yang sudah tumbuh besar dan menghasilkan oxygen buat lingkungan, juga berfungsi sebagai resapan dan penahan tanah bantaran, tampak tumbang akibat di tebang dengan sengaja tanpa memperhitungkan dampaknya, hanya dengan alasan mengganggu kinerja exavator saat pengerukan sedimen sungai.

Iman selaku penebang pohon mengatakan “saya di suruh pa endang untuk tebang pohon, karena di anggap mengganggu kerja beco, dan saya juga sudah ada ijin dari Danki satgas citarum sektor 6 “ungkapnya.

Putra juga menambahkan, saya hanya di bayar harian saja atau kasbon ke pa endang, satu kubik di bayar Rp. 400.000, sebagian jadi kayu bakar dan yang masih bahan di bawa ke gudang cikarees (H.Wanda), bila ukuran bahan gini kira – kira 750.

“Jadi kerja saya di panggil bila ada yang menghalangi beco, biasa yang bell saya pa endang dan operator beco “ucap putra.

Sementara Danki Lettu Cba Wahyudi saat di konfirmasi menjelaskan “masalah penebangan pohon itu coba tanya pa endang, karena itu miliknya. Memang sudah kordinasi, tapi saya pikir tidak sebanyak ini.

Operator beco Suwitno “saya sudah kordinasi minta agar kerja exavator tidak terganggu khususnya saat loading, jarak 10 meter harus bisa keluar masuk kendaraan, masalah penebangan juga sudah di bicarakan dengan danki dan pa endang “paparnya.

Endang sendiri menjelaskan “pohon bantaran ini saya yang nanam, bibit dari kementrian dan di tebang karena mengganggu kenerja beco, tapi sudah di ijin dan diketahui danki satgasnya.

Dudi selaku aktivis lingkungan mengungkapkan “kurangnya kesadaran bersama akan menghambat program citarum harum, apapun alasannya seharusnya tidak di tebang pohon yang tumbuh itu, apalagi sudah pada besar. Tanaman yang di tanam di tanah negara sudah harus jadi milik negara, apalagi jelas ini program citarum harum.

“Padahal pohon tersebut bisa menghisap racun dan memberikan oxygen bagi lingkungan, karena ada pabrik di situ yang bisa menghasilkan limbah flyass, Pa Doni Monardo sangat cinta lingkungan pohon yang tumbuh jangan sampai di rusak, bila di tebangpun tak harus banyak, tidak mudah pohon tumbuh besar butuh waktu lama, dan ini bukan suatu kemajuan tapi kemunduran “katanya. (Chox)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 1 =