Dana BPMU Madrasah Aliyah YAHISHA Diduga Dipotong Kepala Sekola, Alasan Bikin Pager

Kab Bandung Barat, Matainvestigasi.com – Siswa siswi Madrasah Aliyah (MA) YAHISHA yang berlokasi di Jl. Desa Mekarjaya Rt 01/04 Kecamatan Cihampelas tampak berkeliaran dilingkungan sekolah saat jam belajar berlangsung, dikarenaka guru yang mengajar dikelas tidak ada, Sab’tu (22/07).

Menurut informasi yang terhimpun dilapangan, bahwa Yayasan Madrasah tersebut diduga melakukan pemotongan dana Bantuan Gubernur (Bangub) BPMU. Perlu diketahui Dana Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU) tidak boleh di potong atau di pangkas.

Sumber dilapangan yang tak mau disebutkan namanya, “bahwa dana BPMU dipotong oleh Kepala Sekolah Yahisha sebesar 6 juta lebih, sementara penerima manfaat (Guru) hanya menerima 500 ribu saja dengan alasan untuk dana pemagaran sekolah,”ucapnya.

Bukan hanya itu saja, lanjutnya, “bahkan pihak sekolah juga memberikan peluang siswa yang sudah menikah karena hamil duluan sampai lulus ikut ujian dan keluar Ijazahnya, padahal sudah jelas aturan mainnya, dan ini diketahui oleh Pak Cecep selaku kepala sekolah, “ungkapnya.

“Bahkan dulu juga ada siswa yang jual obat daftar G (obat keras) dan pemakai disekolah tersebut tanpa ada sanksi tegas dari kepala sekolah, hal demikian bisa menjadi citra atau mutu kualitas sekolah bisa jelek, “tambahnya.

Saat dikonfirmasi langsung diruang guru, Dendi Herdiawan mengatakan, “bahwa saya tidak tau akan hal tersebut, maklum saya guru bantuan kalau di Yahisha ini.

Firman juga menambahkan, “saya berterima kasih akan adanya hal informasi seperti ini, karena saya juga selaku pemantau dan memang saat ini sedang pembenahan dari yang lama ke yang baru, tidak seperti dulu agak kurang bagus, “katanya.

Dulu memang ada bintik-bintik terkait obat-obatan, makanya kita sosialisasikan dengan bhabinkamtibmas desa. Atinya biar siswa tau bahayanya obat-obatan keras. Dan yang hamil memang tidak tau, saat itu diketahui sudah ujian, jadi yah ikut lulus juga, “jelas Firman.

Kepala MA YAHISHA Cecep Yayan S.Ag, S.Pd, menjelaskan, “masalah BPMU itu langsung guru yang ambil uangnya dan saya tidak potong uang tersebut, namun memang sebenarnya sekolah punya hak, semuanya ada 15 orang yang dapat dana BPMU termasuk saya dan bendahara, tanya bendahara ada potongan tidak?.

“Masalah bikin pager sekolah, itu urusan dari yayasan. Bisa tanya langsung ke ketua yayasan saja, karena memang tidak ada potongan daba BPMU untuk bikin pager sekolah.

Cecepenambahkan, “Untuk siswa yang menikah dan hamil saya taunya saat 1 hari sudah mau ujian, jadi yah kita buat juga ijazahnya karena memang kita tau saat jelang masuk ujian. Dan ijazahnya juga baru di buat bersama yang lainnya, ada 50% lagi belum di kasihkan, karena telat buatnya.

Masalah siswa yang di rajia akibat dugaan narkoba, tambahnya, kita menemukan minuman seperti obat batuk gitulah, makanya kita panggil bhabinkamtibmas desa untuk penyuluhan bahaya narkoba di sekolah, jadi pemakai dan pengedar obat disekolah isunya ada, cuma tidak kedapatan bukti, “jelasnya.

Informasi kuat dari orang yang tak mau di sebutkan namanya, “bahwa semua yang di jelaskan pihak kepala sekolah Yahisha tidak semua benar, dan ada yang ditutupi. Jelas bahwa kasus siswi yang menikah karena hamil sudah diketahui jauh sebelum jelang ujian, dan itu beredar dikalangan para guru, “ungkapnya.

“Adapun pemotongan dana BPMU juga benar adanya, karena ada keluhan pemotongan. Yah guru mengambil dana BPMU sendiri karena langsung masuk rekening, namun setelah diambil dikumpulkan dan hanya di berikan 500 ribu saja dari dana BPMU sebesar 6 juta. Tapi tolong kang, jangan sebutkan nama saya, “tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *