Senat AS Susun UU Keamnan Online Akibat Konton Negatif, Mark Zuckerberg Minta Maaf ke Keluarga Korban Konten

Internasional, Matainvestigasi.com – CEO Meta, Mark Zuckerberg, meminta maaf kepada para orang tua yang mengatakan anak-anak mereka telah dirugikan oleh keberadaan konten negatif media sosial, termasuk Instagram dan Facebook, Senin (05/02).

Permintaan maaf itu disampaikan Zuckerberg dalam rapat dengar pendapat Senat Amerika Serikat untuk menyusun UU Keamanan Online pada Anak yang digelar Rabu (31/1), dan dihadiri oleh para petinggi perusahaan media sosial termasuk Zuckerberg, CEO X Linda Yaccarino, CEO TikTok Shou Zi Chew, CEO Snap Evan Spiegel, dan CEO Discord Jason Citron.

Zuckerberg diminta oleh anggota senat AS untuk menyampaikan permintaan maaf kepada publik yang telah dirugikan oleh media sosialnya. Zuckerberg bersedia melakukan hal itu.

Dia bangkit dari duduk, lalu menoleh ke belakang, ke para audiens. Dia mengatakan, “Tidak seorang pun boleh mengalami” apa yang dialami oleh anak-anak yang merasa telah dirugikan oleh media sosial.

Zuckerberg dan para petinggi media sosial lainnya diinterogasi selama hampir empat jam oleh senator dari Partai Demokrat dan Partai Republik AS.

Di belakang para pemilik perusahaan teknologi itu, duduk para orang tua yang mengatakan anak-anak mereka telah melukai dirinya sendiri atau melakukan bunuh diri akibat terpengaruhi konten negatif media sosial.

Sidang senat kali ini digelar sebagai tindak lanjut upaya melindungi anak-anak dari aktivitas di internet. Para anggota senat meminta pertanggungjawaban pemilik perusahaan media sosial atas semua konten yang dipublikasi di platform mereka.

Para orang tua mendukung pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan para anggota senat kepada pemimpin perusahaan teknologi.

Zuckerberg adalah orang yang paling menjadi sorotan dalam sidang ini. Seorang senator dari Partai Republik, Ted Cruz, sempat bertanya demikian;

“Tuan Zuckerberg, apa yang Anda pikirkan ketika memberi perintah agar Instagram memberi peringatan bahwa konten yang sedang ingin ditonton mengandung materi pelecehan seksual terhadap anak-anak, tetapi tetap memberi opsi agar pengguna melihat konten aslinya?”

Zuckerberg mengatakan “hal itu sering kali membantu, alih-alih menghalangi, untuk membantu mengarahkan pengguna menuju sesuatu yang bisa bermanfaat.” Dia berjanji untuk “memeriksa kebijakan itu secara pribadi.”

Dalam pertanyaan lainnya dari senator Partai Republik, Josh Hawley, Zuckerberg diminta untuk meminta maaf kepada keluarga dari korban, yang duduk di belakangnya.

“Saya minta maaf atas semua yang telah Anda lalui. Itu sungguh mengerikan. Tidak seorang pun harus mengalami penderitaan yang dialami oleh keluarga Anda.

– Mark Zuckerberg, CEO Meta –

CEO TikTok, Shou Zi Chew, mengaku tahu isu-isu yang sedang ramai dibicarakan soal perlindungan anak secara online. Dia menyebut isu ini “mengerikan dan menjadi mimpi buruk setiap orang tua.” Dia menyebut ketiga anaknya tidak menggunakan TikTok karena aturan di Singapura melarang anak di bawah 13 tahun untuk membuat akun TikTok.

Senat AS bernama Tom Cotton, sempat bertanya kepada Zi Chew, apakah induk perusahaan TikTok, Bytedance, membagikan data pengguna TikTok di AS kepada pemerintah China?
Zi Chew menjawab, “Senator, saya orang Singapura.”

Cotton mengajukan pertanyaan lanjutan, apakah Zi Chew pernah menjadi anggota atau berafiliasi Partai Komunis China?

Para bos media sosial ini mengaku sudah banyak mempekerjakan karyawan untuk melakukan moderasi konten. Meta dan TikTok, dengan jumlah pengguna terbesar di platform tersebut, mengatakan mereka masing-masing memiliki 40.000 moderator, sementara Snap mengatakan mereka memiliki 2.300, X memiliki 2.000, dan Discord yang terkecil, dengan klaim memiliki “ratusan” moderator.

Inti dari rapat dengar pendapat ini adalah mengetahui sikap perusahaan media sosial terhadap rencana undang-undang keamanan online pada anak yang saat ini sedang dibahas di kongres.

Meskipun para senator setuju untuk pengesahan UU keamanan online dan adanya aturan tegas terhadap platform, namun apa yang akan dilakukan berikutnya masih belum jelas, menurut pengamat media sosial AS, Matt Navarra.

“Kita telah sering melihat rapat dengar pendapat seperti ini berkali-kali dan sejauh ini sering kali belum menghasilkan peraturan yang signifikan dan substansial,” kata Navarra, kepada BBC.

Setelah sidang, beberapa orang tua yang berada di ruangan tersebut melakukan unjuk rasa di luar ruangan, dan beberapa di antaranya menyerukan kepada anggota parlemen untuk segera mengesahkan undang-undang untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan.

“Seperti yang saya lakukan, banyak orang tua terus berpikir bahwa dampak buruk yang kita bicarakan saat ini tidak akan berdampak pada keluarga mereka,” kata Joann Bogard, yang putranya, Mason, meninggal pada Mei 2019. Dia mengatakan Mason telah ikut serta dalam sebuah tantangan yang berbahaya di TikTok.

“Kerusakan ini terjadi dalam semalam pada rata-rata anak-anak kita,” katanya. “Kami punya kesaksiannya. Sekarang saatnya legislator kami mengesahkan Undang-Undang Keamanan Online pada Anak.” (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *