Jual Perusahaan di Belanda, Bule Ini Wujudkan Mimpi Anak-Anak Untuk Bersekolah

Bandung, Matainvestigasi.com – Kisah inspiratif dari seorang bule asal Belanda, Chaim Fetter, yang dengan tulus hati dan kepeduliannya melibatkan diri untuk mengubah kehidupan anak-anak kurang mampu di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (11/02).

Pada tahun 2005, Chaim Fetter sedang menikmati liburan di pulau indah Lombok. Namun, pengalaman liburannya berubah menjadi peristiwa tak terlupakan ketika ia menjadi korban pemalakan sekelompok anak-anak setempat.

Dipalak oleh sekelompok bocah, Chaim kemudian justru bertanya apakah mereka mau bersekolah. Tak disangka, semua anak itu mengungkapkan keinginan mereka untuk belajar.

Chaim yang terkejut oleh semangat belajar anak-anak tersebut, merasa iba melihat kondisi pendidikan di Lombok. Ia membawa mereka ke sekolah terdekat, namun terkejut dengan mahalnya biaya sekolah di sana.

Hal ini sangat kontras dengan keadaan di negaranya sendiri, Belanda, di mana anak-anak dapat mengakses pendidikan secara gratis.

Dengan hati yang penuh empati, Chaim Fetter memutuskan untuk mengambil langkah besar. Ia pulang ke Belanda, menjual perusahaan milik keluarga, dan kembali ke Lombok setahun kemudian dengan tekad kuat untuk membantu anak-anak tersebut.

Pada kunjungannya yang kedua, Chaim mendirikan Yayasan Peduli Anak di atas tanah seluas 1,5 hektar. Yayasan ini bukan hanya berfungsi sebagai sekolah, tetapi juga sebagai tempat penampungan bagi anak-anak jalanan.

Di samping itu, yayasan ini menyediakan fasilitas kesehatan secara cuma-cuma untuk mendukung kesejahteraan anak-anak.

Sejak pertama didirikan pada 2006 lalu, Yayasan Peduli Anak telah mampu menyekolahkan lebih dari 200 anak di Lombok dan Sumbawa.

Kisah Chaim kini viral di media sosial usai diunggah kembali oleh akun instagram Fyifact. Sejumlah warganet mengaku salut dengan pengorbanan dan ketulusan Chaim.

“Gila separah apa kementerian pendidikan ampe ada orang dari luar negeri, yg bela2in jual perusahaannya sendiri buat anak2 di lombok bisa sekolah,” papar warganet.

“Dari kometar disini aku baru tau kalau sekolah negeri di beberapa daerah masih ada tagihan, sebenarnya itu bisa di laporin sih. Jujur aku selama ini heran bahkan sinis sama orang yang bilang ngak sekolah karna ngak punya uang soalnya aku pikir di semua daerah sama kaya di tempat kami. Soalnya aku dari sd sampai sma di sekolah negeri dan ya memang ngak ada pungutan apapun buku juga dari sekolah tapi di akhir semester memang di kembaliin sih. Trus bagi yang kurang mampu sama juara juara kelas biasanya ada bantuan dari sekolah dan pemerintah juga,” ujar netizen.

“Itu org luar negeri sampe mau jual perusahaan org Indonesia banyak yg jadi sultan cuma untuk pamer kekayaan nya apa ga malu,” kata warganet lainnya.

Kisah inspiratif dari bule belanda ini harusnya menjadi contoh untuk semua. Pendidikan yang wajib di dapatkan anak-anak harus diperjuangkan bersama khususnya Negara. Banyak yang menganggap bahwa pendidikan di Indonesia masih menyusahkan warganya, terkait biaya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *