Kadis Disperindag Baubau Teriaki Warga Pencuri Saat Antre Beras Murah, Korban Menangis

Bandung, Matainvestigasi.com – Viral video menunjukkan aksi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Baubau, La Ode Ali Hasan meneriaki warga yang mengantre operasi pasar murah sebagai pencuri, menjadi viral di media sosial, Kamis (07/03).

Insiden tersebut terjadi di Lapangan Lembah Hijau, Kota Baubau, pada Rabu (6/3) siang, seperti dilaporkan oleh akun Instagram @memomedsos pada Kamis (7/3).

Warga yang menjadi sasaran teriakan tersebut, Fitriani, sebenarnya telah mengantre dengan disiplin dan telah memberikan sejumlah uang kepada seorang petugas untuk memperoleh beras SPHP sebanyak 2 karung seberat 5 kg.

Namun, kepala dinas malah menuduhnya sebagai pencuri, yang menyebabkan Fitriani merasa malu dan menangis di lokasi pasar murah.

“Saya bukan pencuri, jangan begitu, jangan teriaki saya begitu. Dia bilang, kan saya pencuri, saya sudah kasih uangnya, dia teriaki saya pencuri itu kepala dinas,” ujar Fitriani, yang menjadi korban dilokasi antre beras.

Reaksi netizen pun bermacam-macam. Salah satu netizen menuliskan, “Lihat nak, ibu mu sampai diteriaki pencuri demi isi perut kalian terpenuhi.. semoga dimudahkan rezekinya bu, supaya ga ngantri lagi beras murah dari pemerintah.”

Sementara itu, netizen lain menyatakan ketidakpuasan terhadap sikap Kepala Dinas, “Ya Allah jahat banget mulut nya ga pantes jadi pemimpin kalo kaya begitu mulut kok lemes amat.”

Sejumlah netizen juga mengkritik panitia pelaksana operasi pasar murah, menyarankan agar diterapkan garis antri yang lebih baik, menggunakan kerucut atau pembatas jalan.

Mereka berpendapat bahwa sistem antrean yang kurang teratur dapat menyebabkan kerumunan dan situasi yang mudah diserobot.

Belum ada tanggapan resmi dari pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Baubau terkait insiden tersebut.

Warga setempat berharap agar tindakan kepala dinas dapat diperiksa lebih lanjut dan diambil tindakan yang sesuai.

Sementara itu, video tersebut terus menyebar luas di media sosial, memicu diskusi tentang etika pelayanan publik dan perlunya peningkatan pengaturan dalam pelaksanaan operasi pasar murah. (Red)