Wamena, Matainvestigasi.com – Gibson Kogoya menjelaskan, kerusuhan yang terjadi di wilayahnya diawal oleh seorang anak yang ingin membeli kebutuhan di mobil pick-up yang dijadikan toko kelontong, Sabtu (25/02).
“Pedagang di mobil pick-up itu suruh anak ini naik ke atas mobil. Tapi, anak tidak mau, lalu lari. Sehingga masyarakat sekitar tidak terima dengan kejadian itu.”
“Saat mau ditanya ke dua pelaku, mereka langsung diamankan polisi. Lalu masyarakat berkumpul mendatangi polisi, mereka ingin bertanya ke pelaku, kenapa mau anak kecil ini.
“Pihak polisi tidak mengizinkan, lalu polisi tembak gas air mata. Dari situ masyarakat tidak terima lalu adu baku lempar dengan aparat,” kata Gibson.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari sumber yang diperoleh Amnesty International Indonesia, peristiwa itu berawal dari isu penculikan anak sekolah dasar dan terduga pelaku diamankan pihak kepolisian setempat.
Namun, kata Usman, pihak keluarga anak itu disebut tidak menerima kalau polisi mengamankan terduga pelaku, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara aparat kepolisian dan keluarga anak yang diduga mau diculik.
Akhirnya, ungkap laporan dari sumber Amnesty itu, terjadi pertikaian antara masyarakat dan pihak kepolisian.
“Kemudian terjadi baku lempar batu terhadap aparat kepolisian. Karena susah dikendalikan, maka aparat keamanan mengeluarkan gas air mata berkali-kali,” ujar Usman.
“Dari korban-korban tersebut ada ditemukan luka yang diakibatkan oleh tembakan maupun luka senjata tajam. Mereka yang meninggal dunia telah ditempatkan di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Wamena,” tambah Usman.
Sementara itu, kronologi versi polisi yang dilansir dari Kompas.com, Kombes Pol Benny menjelaskan, kerusuhan tersebut diawali ketika dua warga Sinakma menyetop sebuah mobil pedagangan kelontong yang diduga ingin melakukan penculikan anak.
“Saat itu ada warga yang melapor kepada polisi dan kemudian Kapolres mendatangi lokasi kejadian untuk bernegosiasi dengan warga,” kata Benny di Mimika.
Benny menyebut, saat Kapolres Jayawijaya membujuk warga untuk menyelesaikan masalah di Mapolres, tiba-tiba ada sekelompok massa yang datang dan berteriak-teriak.
“Polisi kemudian memberi tembakan peringatan tapi tidak diindahkan massa yang justru semakin brutal,” kata dia.
Dilansir dari Tribunnews, Kapolres Jayawijaya AKBP Hesman S Napitupulu menjelaskan, awal pemicu kemarahan massa, yaitu “warga melihat ada kendaraan membawa anak kecil yang diduga sebagai penculikan,” katanya.
Napitupulu menambahkan, kemudian polisi merespon dengan cepat dan mengajak penyelesaian masalah di kantor polisi.
Namun, saat polisi ingin kembali ke markasnya guna melakukan pertemuan, sekelompok massa tidak terima dan melakukan penyerangan terhadap aparat dan berujung ada pembakaran terhadap rumah warga.
(Red/bbc)
