Dishub Kota Bandung Tidak Becus Kelola Bus Sekolah dan TMB, Anggaran Puluhan Miliar Sia-sia!!

Bandung, Matainvestigasi.Com – Puluhan Bus Sekolah dan TMB yang dikelola oleh Dinas Perhubungan atau Dishub Kota Bandung kondisinya terbengkalai dan tidak terawat. Sabtu, (07/06).

Selain bus sekolah, kondisi serupa juga dialami oleh moda transportasi Trans Metro Bandung (TMB).

Keberadaan puluhan bus-bus tersebut, kini dibiarkan parkir tak terawat di kawasan SOR GBLA, Rancabolang, Gedebage, Kota Bandung.

Berdasarkan hasil penelusuran pengadaan bus pernah dianggarkan pada 2014 silam, ketika Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota.

Melalui data Sistem Informasi Perencanaan Umum Penggaran (SIRUP) Dishub Kota Bandung menggarkan sebesar Rp 22 Miliar untuk pengadaan 20 unit Bus AC Besar.

Untuk pengadaan dilakukan melalui lelang. Sedangkan biaya perawatan dan operasional waktu itu dianggarkan Rp 1,4 miliar untuk dua koridor, Dago-Leuwipanjang dan Antapani-Ledeng.

Kemudian pada tahun 2015 pengadaan bus AC besar kembali anggarkan dengan nilai Rp 37,5 miliar untuk 25 unit bus dengan sistem E-Purcashing.

Sedangkan untuk biaya perawatan pada 2015 lalu, Dishub Kota Bandung menghabiskan anggaran Rp 10 miliar.

Sedangkan untuk biaya perawatan bus pada 2016, Dishub Kota Bandung menganggarkan Rp 13 miliar. Itupun belum termasuk untuk pengadaan GPS tracking dan pembangungan shelter.

Begitupun pada 2017 anggaran perawatan bus capai puluhan miliar. Dishub juga alokasikan untuk perawatan dan pengadaan casis bus dan karasori mencapai Rp 14 miliar.

Sedangkan pada 2018, biaya untuk jasa servis pengoperasian bus Sekolah dan TMB juga dialokasikan hampir mencapai Rp 20 miliar.

Untuk 2019 biaya perawatan dan pengoperasian mencapai Rp 15 miliar yang terbagi ke dalam beberapa koridor.

Biaya operasional dan perawatan bus mulai mengalami penurunan pada 2020 yang hanya dialokasikan Rp 8,4 miliar.

Alokasi perawatan dan operasional Bus Sekolah dan TMB mulai tidak dianggarkan ketika memasuki tahun anggaran 2021.

Pada tahun ini, hanya dialokasi untuk perbaikan dan rekondisi bus sebesar Rp 600 juta. Begitupun pada 2022 biaya perawatan dan pemeliharaan sudah tidak dianggarkan karena dampak inflasi akibat Pandemi Covid.

Berdasarkan data Dishub Kota Bandung punya 36 unit bus sekolah. Namun hanya 5 bus saja yang masih beroperasi.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Asep Kuswara mengakui, saat ini kondisi bus banyak yang terbengkalai karena tidak dianggarkan untuk biaya perawatan.

Hal ini karena waktu itu, bus sekolah sudah tidak diminati karena ada sistem zonasi. Sehingga bus tidak digunakan.

Asep beralasan, sebanyak 14 unit sudah dilelang. Tapi belum diambil oleh pihak pemenang.

Selain itu, jika melaihat kondisi bus saat ini sudah rusak dan tidak bisa dioperasikan. Sehingga layak dihapuskan.

‘’Makanya kita lelang dan dilakukan appraisal, sebagian sudah laku terjual karena sudah tidak mungkin digunakan,” kilah Asep beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Angkutan Dishub Kota Bandung Yudiana memberikan data yang tidak valid.

Menurutnya berdasarkan informasi dari pejabat sebelumnya anggaran pengadaan bus sebesar Rp 10 miliar dengan merek Hino.

Yudiana mengaku, Untuk bus belum terlelang dan akan dilelang kembali pada tahun ini. Sebab bus sudah tidak mungkin lagi digunakan.