KUNINGAN, MATAINVESTIGASI. COM — Upaya memperkuat kualitas demokrasi terus didorong oleh DPRD Provinsi Jawa Barat dengan menyasar generasi muda sebagai pemilih masa depan. Melalui kegiatan edukasi yang berlangsung sejak Maret 2026 di berbagai sekolah di Kabupaten Kuningan, anggota DPRD Jabar, Ika Siti Rahmatika, turun langsung memberikan pemahaman dasar tentang demokrasi kepada para pelajar.
Langkah ini dilandasi oleh kesadaran bahwa pelajar saat ini akan segera memasuki usia pemilih. Tanpa bekal pemahaman yang cukup, mereka berpotensi menjadi pemilih pasif yang tidak memahami makna dan konsekuensi dari pilihan politiknya.
Dalam setiap kunjungan, Ika tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang diskusi. Para siswa terlihat aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari mekanisme pemilu hingga peran generasi muda dalam sistem politik, meskipun sebagian dari mereka belum memiliki hak pilih.
“Penting bagi generasi muda memahami bagaimana demokrasi bekerja dan bagaimana menggunakan hak pilih secara bijak,” ujarnya dalam keterangan di Kuningan, Sabtu (28/3).
Interaksi tersebut menunjukkan adanya ketertarikan sekaligus kebutuhan akan literasi politik di kalangan pelajar. Rasa ingin tahu yang muncul menjadi indikasi bahwa generasi muda memiliki potensi untuk berperan aktif dalam demokrasi, selama diberikan ruang dan pemahaman yang tepat.
DPRD Jabar melihat partisipasi generasi muda sebagai salah satu faktor kunci dalam menjaga kualitas demokrasi. Oleh karena itu, edukasi sejak dini dinilai penting untuk membentuk pemilih yang tidak hanya hadir dalam pemilu, tetapi juga memahami nilai dan tanggung jawab di balik partisipasi tersebut.
Selain aspek demokrasi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Penanaman nilai ini dianggap penting agar keterlibatan generasi muda dalam politik tetap berada dalam koridor kebangsaan.
Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menyentuh langsung pelajar, DPRD Jabar berupaya membangun kesadaran politik dari tahap awal. Harapannya, ketika memasuki usia pemilih, generasi muda tidak hanya berpartisipasi secara formal, tetapi juga memiliki pemahaman yang matang dalam menentukan arah kepemimpinan di masa depan.
