BANDUNG, MATAINVESTIGASI.COM — Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, M Faizin, meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar melanjutkan sekaligus memperluas program pembangunan rumah panggung bagi masyarakat terdampak banjir di kawasan Pondok Gede Permai, Kota Bekasi. Program tersebut dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko kerugian warga yang selama ini hidup di wilayah rawan banjir tahunan.
Menurut Faizin, hingga saat ini masih terdapat puluhan kepala keluarga yang belum mendapatkan bantuan hunian adaptif tersebut. Padahal, kawasan Pondok Gede Permai menjadi salah satu titik paling rentan terdampak luapan sungai ketika musim hujan tiba.
“Kami berharap program ini bisa terus dikembangkan agar seluruh warga terdampak banjir dapat merasakan solusi yang sama. Sehingga dampak banjir bisa diminimalisir secara signifikan,” ujar M Faizin dalam keterangannya di Bandung, Jumat.
Ia menjelaskan, realisasi pembangunan rumah panggung di kawasan tersebut sejauh ini masih terbatas. Pada tahun 2026, pembangunan baru mencapai 10 unit rumah, sementara delapan unit lainnya telah lebih dulu dibangun pada tahun sebelumnya. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat, mengingat masih ada sekitar 80 kepala keluarga yang tinggal di kawasan rawan banjir namun belum tersentuh program tersebut.
Faizin menilai dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi faktor penting agar pembangunan rumah panggung bisa dilakukan secara bertahap dan merata bagi seluruh warga terdampak.
Menurutnya, pemilihan Pondok Gede Permai sebagai lokasi prioritas bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut hampir setiap tahun mengalami banjir akibat meluapnya aliran sungai, sehingga masyarakat membutuhkan model hunian yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan.
“Daerah ini langganan banjir setiap tahun, dengan konsep rumah panggung ini diharapkan warga tetap aman meskipun air menggenangi bagian bawah rumah,” ucapnya.
Program rumah panggung tersebut diketahui memiliki nilai pembangunan sekitar Rp125 juta per unit. Dari sisi konstruksi, bangunan menggunakan material beton pracetak berstandar nasional Indonesia (SNI) yang diklaim memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi cuaca maupun bencana.
Selain itu, proses pembangunan juga dinilai relatif cepat. Struktur utama bangunan disebut dapat dipasang hanya dalam waktu dua hari, sedangkan keseluruhan proses pembangunan hingga siap ditempati memerlukan waktu sekitar empat bulan.
“Secara keseluruhan pembangunan selesai dalam waktu sekitar empat bulan hingga siap dihuni,” tutur Faizin.
Tak hanya mengutamakan aspek keamanan, konsep rumah panggung tersebut juga dirancang dengan mempertimbangkan kenyamanan penghuni. Area terbuka di bagian bawah rumah dapat dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan tambahan, sekaligus menjadi ruang aman ketika debit air meningkat saat banjir terjadi.
