Ancaman Banjir–Longsor Meningkat, DPRD Jabar Tekankan Mitigasi Menyeluruh

JAWA BARAT, MATAINVESTIGASI.COM -– Memasuki musim hujan yang rawan bencana, Anggota Komisi 1 DPRD Provinsi Jawa Barat, Toto Suharto, menegaskan pentingnya memperkuat mitigasi secara menyeluruh. Jawa Barat dikenal sebagai provinsi dengan tingkat kerentanan bencana paling tinggi di Indonesia, mulai dari banjir, longsor, gempa, hingga kebakaran hutan. Karena itu, Toto mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menunda langkah-langkah pencegahan. Jumat (21/11/2025)

Peringatan itu ia sampaikan saat berada di Garut, Kamis (20/11), menyusul meningkatnya potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Menurutnya, kesiapsiagaan pemerintah harus berjalan cepat dan terkoordinasi sebelum situasi semakin buruk.

Toto menekankan bahwa langkah pertama dalam mitigasi yang kuat adalah pemetaan wilayah rawan. Pemerintah diminta memperbarui dan memperjelas data kerawanan bencana, mulai dari zona rawan gempa, titik-titik longsor, daerah banjir, hingga kawasan hutan yang rentan terbakar.

“Penyusunan peta risiko berbasis mitigasi dan tata ruang itu penting banget,” ujar Toto. Dengan peta yang akurat, pemerintah bisa menentukan prioritas, menyalurkan anggaran secara tepat, dan memastikan masyarakat di wilayah rentan mendapat perlindungan maksimal.

Selain pemetaan, Toto menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur. Drainase harus bekerja optimal, sungai perlu dinormalisasi, tanggul diperkuat, dan embung diperbanyak untuk menghadapi curah hujan tinggi. Ia juga mendorong revisi pembangunan fasilitas vital seperti sekolah dan rumah sakit, agar benar-benar memenuhi standar ketahanan gempa.

Di sisi lain, aspek lingkungan juga tak boleh diabaikan. Reboisasi dan pengawasan ketat terhadap aktivitas di kawasan lereng harus terus dilakukan. “Penertiban permukiman di lereng curam dan pengendalian alih fungsi lahan itu kunci mengurangi risiko longsor,” jelas Toto.

Toto juga menegaskan bahwa masyarakat harus dilibatkan langsung dalam upaya mitigasi. Edukasi, sosialisasi, dan simulasi kebencanaan perlu diperbanyak agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.

Pembentukan Desa Tangguh Bencana di seluruh kabupaten/kota dipandang sebagai langkah strategis. Desa-desa ini akan menjadi garda terdepan dalam respons cepat sebelum bantuan besar datang.

Pemasangan sistem peringatan dini dan penentuan jalur evakuasi yang jelas juga wajib diperkuat. “SOP harus disiapkan, jalur aman dan titik kumpul harus jelas. Koordinasi lintas instansi jangan sampai lemah,” tegas Toto.