RIO DE JANEIRO, MATAINVESTIGASI.COM – Kota yang selama ini dikenal dengan pantai Copacabana dan karnaval megahnya, kini berubah jadi medan tempur. Pemerintah Brasil melancarkan operasi militer-polisi terbesar dalam sejarah Rio de Janeiro untuk memberantas jaringan narkoba paling berbahaya di negeri itu — Comando Vermelho (Red Command). Kamis (30/10/2025)
Operasi yang berlangsung selama beberapa hari di kawasan Complexo do Alemão dan Penha itu menewaskan lebih dari 100 orang, termasuk sejumlah anggota geng, polisi, dan warga sipil.
Pemerintah Brasil menyebut aksi ini sebagai “perang melawan narkoterrorisme”, sementara organisasi hak asasi manusia menuding aparat menggunakan kekuatan berlebihan tanpa mempertimbangkan keselamatan warga.
•Baku Tembak di Tengah Permukiman Padat
Menurut laporan resmi yang dikutip dari Sky News dan Time, operasi ini melibatkan sekitar 2.500 personel gabungan dari kepolisian dan militer Brasil. Mereka menyisir rumah-rumah di wilayah favela — kawasan padat penduduk yang sudah lama dikenal sebagai markas Red Command.
Geng tersebut melawan balik dengan brutal. Mereka menggunakan drone, senjata berat, dan membarikade jalan-jalan masuk. Suara tembakan menggema sepanjang malam, membuat ribuan warga panik dan bersembunyi di rumah.
“Tubuh-tubuh terus berdatangan. Banyak korban ditemukan di gang sempit yang tertutup asap dan reruntuhan.” ujar salah satu relawan medis seperti dikutip The Times of India
•Red Command: Jaringan Narkoba Tertua di Brasil
Red Command bukan geng sembarangan. Berdiri sejak 1970-an di penjara Rio, kelompok ini berkembang jadi kartel narkoba terbesar di Brasil dengan jaringan perdagangan internasional yang merambah hingga ke Eropa dan Afrika.
Mereka menguasai distribusi kokain, pemerasan, dan kontrol penuh atas sejumlah wilayah favela. Pemerintah Brasil menilai operasi kali ini sebagai langkah strategis untuk memutus dominasi mereka, terutama menjelang perhelatan internasional COP30 yang akan digelar di negara itu tahun depan.
Namun, di sisi lain, sejumlah pengamat menilai langkah ini juga sarat kepentingan politik. Pemerintah dinilai ingin menunjukkan “ketegasan” dalam menjaga keamanan nasional di hadapan dunia.
•Korban Sipil dan Sorotan Dunia
Laporan awal menyebut sedikitnya 64 orang tewas, tapi angka itu kemudian meningkat hingga 132 korban jiwa, menjadikannya operasi paling mematikan dalam sejarah Brasil modern.
Amnesty International dan Human Rights Watch mengecam keras tindakan aparat yang dianggap “melanggar prinsip proporsionalitas dan kemanusiaan”. Mereka mendesak dilakukan investigasi independen terhadap dugaan pembunuhan di luar hukum.
Di sisi lain, Gubernur Rio de Janeiro membela langkah tersebut, menyatakan bahwa “negara tidak boleh tunduk pada teror geng bersenjata.”
•Suara dari Warga Favela
Bagi warga di lapangan, operasi ini meninggalkan trauma mendalam. Banyak yang kehilangan anggota keluarga, rumah hancur, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
“Kami bukan geng, kami hanya orang biasa yang terjebak di tengah perang. Setiap kali polisi datang, kami selalu jadi korban.” kata seorang warga lokal kepada AP News.
Sementara itu, sebagian warga mendukung operasi ini, berharap setidaknya bisa mengembalikan rasa aman yang selama ini direnggut geng bersenjata.
•Antara Keamanan dan Kemanusiaan
Operasi besar-besaran ini memunculkan dilema klasik: menegakkan hukum versus melindungi hak hidup warga sipil. Pemerintah Brasil berjanji akan terus melanjutkan razia terhadap kelompok kriminal hingga Red Command benar-benar hancur.
Namun, banyak pihak menilai perang melawan narkoba tak akan selesai hanya dengan peluru. “Selama akar kemiskinan, ketimpangan, dan korupsi tak dibereskan, geng baru akan selalu tumbuh,” ujar seorang peneliti keamanan di Universitas São Paulo.
